Saturday, May 30, 2026
Ekonomi

Rebalancing MSCI dan Kebijakan DHE Picu Transaksi Rp50 Triliun di BEI

Jakarta — Nilai transaksi pasar saham Indonesia menembus Rp 50,15 triliun pada perdagangan Jumat (29/5/2026), menandai salah satu hari transaksi terbesar dalam sejarah Bursa Efek Indonesia. Volume transaksi mencapai 47,21 miliar saham dengan frekuensi 2,38 juta kali, didorong oleh aksi rebalancing indeks MSCI dan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) yang mulai berlaku 1 Juni mendatang.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melesat 87,69 poin atau 1,43% ke level 6.217,88 pada sesi pertama. Namun, tren berbalik arah menjelang penutupan. IHSG akhirnya ditutup turun tipis 2,8 poin (-0,05%) ke level 6.127,38. Dari total saham yang diperdagangkan, 271 saham menguat, 409 melemah, dan 137 stagnan.

Konglomerat Tertawa, Big Banks Tertekan

Analis Doo Financial Lukman Leong menjelaskan, lonjakan transaksi hari ini dipengaruhi aksi penyesuaian posisi investor menjelang agenda penting pemerintah, termasuk implementasi transisi kebijakan DHE dan ekspor satu pintu per 1 Juni.

“Pelaku pasar tampaknya mulai menyesuaikan portofolio untuk mengantisipasi potensi dampak kebijakan tersebut terhadap likuiditas dolar domestik, nilai tukar rupiah, dan prospek emiten eksportir maupun komoditas,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (29/5/2026).

Di sisi lain, emiten-emiten konglomerasi secara mayoritas mencatatkan penguatan signifikan di tengah rebalancing MSCI. Saham Grup Barito menjadi sorotan dengan nilai transaksi besar: TPIA sebesar Rp 8,6 triliun, BREN Rp 4,5 triliun, BRPT Rp 4,1 triliun, CUAN Rp 2,4 triliun, PTRO Rp 2,2 triliun, dan CDIA Rp 656 miliar.

Sementara itu, tekanan justru datang dari emiten perbankan big caps. BBCA tercatat Rp 11,64 triliun, AMMN Rp 8 triliun, BBRI Rp 6,4 triliun, TLKM Rp 5 triliun, ASII Rp 4,8 triliun, dan BMRI Rp 3,6 triliun.

Sentimen Global dan Kebijakan DHE

Analis MNC Sekuritas Herditya menyebut pergerakan IHSG hari ini cenderung volatile dan rawan koreksi. “Dapat kita cermati bersama pada pre-opening sempat berada di zona merah dan sepanjang hari menghijau lalu ditutup terkoreksi tipis,” ungkapnya.

Selain rebalancing MSCI, sentimen lain yang mempengaruhi pasar adalah rangkaian data ekonomi penting dari Amerika Serikat, China, dan Indonesia. Kebijakan DHE yang akan mulai diterapkan pada awal Juni menjadi faktor kunci yang membuat investor berhati-hati dalam menentukan arah investasi mereka.

Koreksi ini memperpanjang tren penurunan sejak perdagangan menjelang libur Idul Adha, ketika big bank juga mengalami tekanan serupa. Meski demikian, IHSG masih berupaya bertahan di atas level 6.100, menunjukkan ketahanan pasar di tengah gejolak global.

Rebalancing MSCI sendiri merupakan proses peninjauan ulang komposisi indeks oleh MSCI Inc, yang berdampak pada arus dana asing masuk dan keluar dari pasar saham Indonesia. Proses ini biasanya memicu volatilitas tinggi, terutama bagi emiten dengan kapitalisasi besar yang masuk dalam daftar indeks global tersebut.