Thursday, May 28, 2026
EkonomiInternasional

AS Serang Iran Lagi Saat Gencatan Senjata: Minyak Dunia Meroket ke US$100

Harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali pupus. Tehran menuduh Washington melanggar gencatan senjata yang telah bertahan hampir tujuh pekan setelah jet tempur dan drone AS menyerang instalasi militer Iran di Provinsi Hormozgan, sekitar Selat Hormuz, Selasa dini hari (27/5).

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan itu sebagai “pelanggaran besar” terhadap gencatan senjata yang rapuh. “Suara ledakan terdengar di wilayah Hormozgan,” lapor media Iran. Padahal, kedua negara sedang dalam tahap menyusun kesepakatan awal untuk mengakhiri perang yang telah berkecamuk lebih dari tiga bulan.

Washington: Itu Defensif

Pemerintah AS membela diri. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan serangan itu bersifat defensif, menargetkan lokasi rudal Iran dan kapal-kapal yang diduga mencoba menanam ranjau laut di Selat Hormuz. “Selat Hormuz harus terbuka, dengan satu cara atau cara lainnya,” tegas Rubio dalam penerbangan ke India.

Konflik Iran-AS sendiri meletus pada 28 Februari lalu setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran. Perang itu mengguncang pasokan minyak global secara dramatis — mendorong lonjakan harga bahan bakar, pupuk, hingga pangan dunia. Selama perang, lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok drastis. Padahal jalur sempit itu biasanya mengalirkan seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.

Minyak Dekati US$100

Eskalasi terbaru langsung mengerek harga minyak. Harga minyak mentah Brent pada Selasa melonjak sekitar 3,5 persen hingga mendekati US$100 per barel. Garda Revolusi Iran mengklaim 25 kapal tanker telah melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir dengan izin mereka — namun juga memperingatkan bahwa Iran tetap berhak membalas serangan AS.

Unit pertahanan udara Iran mengeklaim berhasil menembak jatuh satu drone AS dan menembaki drone lain serta jet tempur yang memasuki wilayah udara Iran di kawasan Teluk.

Khamenei Kembali Berapi-api

Di tengah situasi yang memanas, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei melontarkan retorika keras terhadap AS dan Israel. Dalam pesan Iduladha yang dirilis bersamaan dengan pecahnya insiden, Khamenei menyatakan Timur Tengah tidak akan lagi menjadi tameng pangkalan-pangkalan Amerika. Sebuah sinyal bahwa meski pintu diplomasi sempat terbuka, Iran siap kembali ke jalur konfrontasi penuh.