Friday, May 29, 2026
Ekonomi

Prabowo Siapkan Paket Stimulus Ekonomi Rp 7,8 T, Ada Insentif Pajak untuk Penulis

Jakarta — Pemerintah resmi menyetujui Paket Stimulus Ekonomi Semester II-2026 dengan total anggaran Rp 7,8 triliun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, paket ini dirancang untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi lewat berbagai program bantuan dan kemudahan bagi masyarakat.

Fokus utama stimulus teranyar ini adalah diskon tiket transportasi untuk masa libur Natal dan Tahun Baru 2026. Pemerintah mengalokasikan Rp 190 miliar untuk periode libur sekolah yang menyasar 3,07 juta orang, serta Rp 161,4 miliar untuk momen Nataru bagi sekitar 2,87 juta penerima manfaat.

PPN DTP Tiket Pesawat hingga Program Magang Nasional

Selain diskon transportasi, pemerintah juga menyiapkan PPN ditanggung pemerintah (PPN DTP) khusus tiket pesawat senilai Rp 472,7 miliar untuk libur sekolah dengan target 2,3 juta penumpang. Untuk periode Nataru, anggaran PPN DTP dialokasikan sebesar Rp 722 miliar dengan target 3,7 juta penumpang.

“Diskon transportasi dan juga diskon untuk angkutan udara ini selama liburan sekolah nanti dan juga untuk Nataru,” kata Airlangga di kantornya, Jakarta.

Tak cuma mobilitas, stimulus juga merambah sektor ketenagakerjaan. Program magang nasional dijadwalkan bergulir Juli 2026 untuk 150 ribu peserta dengan anggaran Rp 4,14 triliun. Sementara program vokasi nasional menyasar 220 ribu lulusan SMK dan 50 ribu korban PHK dengan nilai Rp 2,12 triliun.

Insentif Pajak untuk Penulis

Yang menarik, paket stimulus kali ini juga memasukkan insentif pajak khusus bagi para penulis berupa PPh Final dengan tarif 1,5%. Besaran anggaran untuk program ini belum diungkapkan secara detail oleh Airlangga.

“Jadi itu yang tadi dibahas dan ini semuanya diharapkan bisa menjadi stimulus di kuartal ke-2,” tegas Airlangga.

Dengan total anggaran Rp 7,8 triliun — belum termasuk insentif PPh Final para Penulis — paket stimulus ini menjadi upaya pemerintah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global. Kuartal kedua menjadi momen krusial bagi kebijakan fiskal untuk mendorong konsumsi domestik sekaligus memperkuat daya saing tenaga kerja muda.