Neymar Cedera Betis, Terancam Absen di Laga Pembuka Brasil di Piala Dunia 2026
Jakarta —
Neymar resmi absen dari dua laga uji coba Brasil menjelang Piala Dunia 2026. Pemain berusia 34 tahun itu mengalami cedera betis tingkat dua yang memaksanya menepi setidaknya dua hingga tiga minggu ke depan.
Cedera ini terkonfirmasi setelah Neymar menjalani pemindaian MRI di pusat latihan Granja Comary. Dokter tim Brasil, Rodrigo Lasmar, memastikan kondisi sang penyerang lebih parah dari sekadar pembengkakan biasa.
“Neymar melapor untuk bertugas kemarin di Granja Comary, menjalani semua tes medis, yang diakhiri dengan pemindaian MRI yang mengungkapkan cedera betis tingkat dua, bukan hanya pembengkakan. Dia diperkirakan akan dinyatakan pulih dalam dua hingga tiga minggu,” kata Lasmar dikutip dari Fotmob.
Cedera Berawal dari Kekalahan Santos
Masalah cedera ini bermula saat Santos menelan kekalahan 0-3 dari Coritiba pada 17 Mei lalu. Sejak pertandingan itu, Neymar sudah absen di tiga laga berikutnya. Kala itu, ia sempat menilai cederanya tidak terlalu serius. Hasil MRI ternyata berkata lain.
Dengan waktu pemulihan dua hingga tiga minggu, Neymar dipastikan tidak akan turun saat Brasil menghadapi Panama dan Mesir dalam laga persahabatan. Yang lebih mengkhawatirkan, laga pembuka Brasil melawan Maroko di Piala Dunia 2026 juga berada di ujung tanduk.
Ancelotti Kehilangan Senjata Utama
Bagi pelatih Carlo Ancelotti, absennya Neymar merupakan pukulan telak. Penyerang yang kini membela Santos itu masih menjadi andalan lini depan Selecao dengan catatan 79 gol dari 128 penampilan bersama timnas Brasil.
Rekam jejak Neymar di Piala Dunia juga begitu mengesankan. Ia sudah mencetak delapan gol dan tiga assist dari 13 pertandingan di putaran final. Hanya tiga legenda Brasil — Ronaldo Nazario, Pele, dan Jairzinho — yang punya kontribusi gol lebih banyak di ajang Piala Dunia.
Bahkan, Neymar tercatat sebagai satu dari tiga pemain yang berhasil mencetak gol sekaligus assist dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir. Dua nama lainnya adalah Lionel Messi dan Luka Modric. Kehilangan pemain sekaliber itu di momen krusial jelas menjadi mimpi buruk bagi Ancelotti dan seluruh pendukung Brasil.