Friday, May 29, 2026
Energi

Harga Minyak Mentah Dunia Ambruk Lebih dari 5%, Diplomasi AS-Iran Redakan Kekhawatiran

Jakarta — Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 5% pada perdagangan Rabu (28/5/2026), setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Washington masih membuka ruang lebar bagi keberhasilan negosiasi dengan Iran. Penurunan tajam ini menandai pergeseran sentimen pasar dari ketakutan eskalasi militer menjadi optimisme diplomatik.

Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup merosot ke level US$88,68 per barel, sementara minyak acuan global Brent juga melemah lebih dari 5% dan berakhir di posisi US$94,29 per barel. Kedua benchmark mencatatkan penurunan harian terbesar dalam pekan terakhir.

Rubio Buka Jalan Diplomasi

Pernyataan Rubio disampaikan dalam rapat kabinet di Gedung Putih. Ia mengatakan pembicaraan antara AS dan Iran menunjukkan perkembangan positif meski situasi di kawasan Timur Tengah masih diliputi ketegangan.

“Intinya adalah kami lebih memilih jalur diplomasi yang dinegosiasikan dan kami akan memberikan setiap kesempatan agar berhasil,” kata Rubio.

Presiden AS Donald Trump turut menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan menguasai Selat Hormuz dalam kesepakatan apa pun. Jalur tersebut merupakan titik vital perdagangan energi global karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melintas di kawasan itu sebelum konflik pecah.

“Selat itu akan terbuka bagi semua orang. Itu adalah perairan internasional, tidak ada yang akan mengendalikannya,” kata presiden dalam rapat kabinetnya.

Iran Tawarkan Restorasi Hormuz dalam Sebulan

Televisi pemerintah Iran sebelumnya mengatakan Teheran telah berkomitmen untuk memulihkan lalu lintas komersial melalui Hormuz ke tingkat sebelum perang dalam waktu satu bulan setelah kesepakatan dengan AS. Iran bahkan mengusulkan pengelolaan lalu lintas kapal bersama Oman.

Namun, Gedung Putih membantah laporan mengenai adanya nota kesepahaman tersebut dan menyebutnya sebagai “rekayasa sepenuhnya.”

Pemulihan Pasokan Butuh Waktu Panjang

Para pakar industri meragukan aliran minyak akan segera kembali ke level praperang. Meski peluang diplomasi kembali terbuka, pelaku industri menilai pemulihan pasokan minyak tidak akan berlangsung cepat.

Kepala Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC), Sultan Ahmed al-Jaber, sebelumnya memperkirakan arus minyak global membutuhkan setidaknya empat bulan untuk kembali mencapai 80% dari kapasitas normal, bahkan jika konflik berhenti saat ini juga. Menurutnya, pemulihan penuh kemungkinan baru terjadi pada kuartal I atau II tahun 2027.

Pasar minyak sempat bergejolak dalam beberapa hari terakhir setelah AS dan Iran berada di ambang kesepakatan sekaligus risiko eskalasi militer baru. Pasukan AS diketahui melancarkan serangan ke wilayah selatan Iran yang disebut Pentagon sebagai langkah defensif, sementara Teheran mengancam akan melakukan pembalasan.