Friday, May 29, 2026
Energi

Harga Minyak Meroket Usai AS Gempur Bandar Abbas, Brent Sentuh USD 97,83

Jakarta — Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara terbaru ke wilayah Iran. Langkah agresif Washington ini langsung mendorong harga minyak mentah dunia melonjak tajam dalam hitungan jam.

Minyak mentah acuan global, Brent, melesat 3,75 persen ke level USD 97,83 per barel. Harga minyak mentah pasar AS juga ikut meroket 4 persen hingga menyentuh USD 92,22 per barel. Kondisi ini memperparah ketidakpastian ekonomi dunia yang sedang berjuang menahan laju inflasi.

Serangan Fokus ke Bandar Abbas

Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi pasukannya membidik fasilitas militer strategis di kota pelabuhan Bandar Abbas. Selain menghancurkan target darat, militer AS juga melakukan pencegatan udara di wilayah perairan sekitar Iran.

“Menembak jatuh empat drone Iran yang menimbulkan ancaman di sekitar Selat Hormuz,” sebut Komando Pusat AS (Centcom) dikutip dari CNBC, Kamis (28/5/2026).

Gencatan Senjata Terancam Batal

Operasi militer ini melukai komitmen perdamaian yang sedang dirintis kedua belah pihak dalam beberapa pekan terakhir. Ketegangan baru meletus di tengah proses negosiasi aktif untuk mengakhiri perselisihan yang telah berlangsung selama tiga bulan.

Padahal, Washington dan Tehran sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata sementara demi kelancaran diplomasi. Langkah sepihak AS kini mengancam keberlangsungan dialog yang bertujuan membuka kembali jalur pelayaran internasional secara aman.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis

Pemblokiran Selat Hormuz selama konflik ini berdampak masif pada meroketnya biaya energi di seluruh dunia. Penutupan akses pelayaran membuat jalur distribusi logistik global harus memutar jauh dan memakan biaya tinggi.

Sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) biasanya melintasi jalur sempit di Selat Hormuz. Keamanan wilayah ini menjadi penentu utama kestabilan harga komoditas energi global.

Akar Konflik: Serangan Gabungan AS-Israel

Ketegangan bersenjata ini berakar dari serangan udara gabungan yang diinisiasi militer AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Operasi tersebut menyasar titik-titik krusial di dalam wilayah kedaulatan Iran.

Tehran langsung bereaksi keras dengan mengeluarkan ancaman pembalasan yang sangat serius. Pemerintah Iran mengancam akan menyerang setiap kapal komersial maupun militer yang nekat melintasi rute pelayaran strategis tersebut.

Ancaman ini membuat harga minyak dunia terus bergerak volatile sejak awal konflik. Para analis memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat mendorong harga Brent melampaui angka USD 100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir.