Thursday, May 28, 2026
Religi

Takbir Idul Adha Berlangsung Berapa Lama? Ini Hukumnya Menurut Para Ulama

Hari Raya Idul Adha 1447 H jatuh pada 27 Mei 2026. Umat Islam di seluruh Indonesia pun menyambut hari besar ini dengan penuh khidmat, termasuk mengumandangkan takbir yang berkumandang sejak malam hingga pagi hari.

Namun, tak sedikit yang bertanya-tanya: berapa lama sebenarnya takbir Idul Adha boleh dikumandangkan? Apakah cukup semalam saja seperti Idul Fitri, atau justru lebih panjang?

Durasi Takbir Idul Adha Lebih Panjang dari Idul Fitri

Berbeda dengan Idul Fitri, takbiran Idul Adha memiliki durasi yang jauh lebih lama. Berdasarkan kajian para ulama yang merujuk pada Surat Al-Hajj ayat 28 dan berbagai hadits, takbiran Idul Adha dilakukan selama lima hari penuh.

Waktu pelaksanaannya dimulai sejak subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga waktu Ashar pada hari Tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah). Hal ini didasarkan pada pendapat Imam Ahmad, Abu Saur, dan Sufyan Ats-Tsauri yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari istimewa tersebut.

Hukum mengumandangkan takbir Idul Adha sendiri adalah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak lafaz takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT di hari-hari yang penuh berkah ini.

Dua Jenis Takbiran yang Perlu Diketahui

Dalam pelaksanaannya, takbiran Idul Adha terbagi menjadi dua jenis berdasarkan waktu dan tempatnya. Kedua jenis ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan dalam hal tata cara dan ketentuan waktunya.

Takbir Mursal

Takbir Mursal adalah lantunan takbir yang bisa dikumandangkan di mana saja dan kapan saja. Jenis takbir ini tidak terikat dengan waktu salat, sehingga umat Islam bisa bertakbir di jalan, di rumah, di pasar, maupun di masjid.

Waktunya pun cukup panjang, yakni dimulai sejak memasuki tanggal 1 Dzulhijjah hingga akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah). Ini artinya, umat Islam memiliki waktu hampir dua pekan untuk memperbanyak takbir dalam aktivitas sehari-hari.

Takbir Muqayyad

Berbeda dengan Takbir Mursal, Takbir Muqayyad adalah takbir yang terikat dengan waktu-waktu tertentu, khususnya setelah pelaksanaan salat fardhu. Jenis takbir ini dikumandangkan secara berjamaah setelah salat sebagai bentuk syukur dan pengagungan kepada Allah SWT.

Para ulama sepakat bahwa waktu Takbir Muqayyad dimulai sejak salat Subuh hari Arafah hingga salat Ashar hari Tasyrik terakhir. Dalam rentang waktu tersebut, jamaah dianjurkan untuk mengumandangkan takbir setelah menunaikan salat fardhu.

Makna Mendalam di Balik Takbir Idul Adha

Takbir Idul Adha bukan sekadar tradisi tahunan. Di balik lantunan “Allahu Akbar” yang berkumandang, terdapat makna mendalam tentang kebesaran Allah SWT dan ketundukan hamba-Nya.

Hari Raya Idul Adha sendiri mengingatkan umat Islam pada kisah Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ketaatan total kepada perintah Allah. Momen kurban ini menjadi simbol pengorbanan dan keikhlasan yang patut diteladani setiap Muslim.

Dengan memperbanyak takbir selama lima hari penuh, umat Islam diajak untuk terus mengingat kebesaran Allah SWT dan memperkuat rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan. Takbir juga menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia ini sementara, dan hanya kebesaran Allah yang kekal abadi.

Baca juga: Prabowo Lebaran Iduladha di Wisma KBRI Paris, Salat Id Bareng WNI