Friday, May 29, 2026
Religi

Warga Arab Rela Berlayar ke Sumatra Cari Tanaman Kamper yang Disebut dalam Al-Quran

Jakarta — Sebuah catatan sejarah kuno mengungkap bagaimana warga Arab rela berlayar ribuan kilometer ke Nusantara hanya demi satu tanaman: kamper. Komoditas ini, yang disebut dalam Al-Qur’an Surat Al-Insan ayat 5 sebagai “kafur,” menjadi alasan utama pedagang Arab pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sumatra.

Dalam kitab suci, kafur diartikan sebagai sari dari tanaman kamper yang memiliki aroma khas dan bernilai tinggi. Namun yang dimaksud bukan pewangi sintetis berbentuk kecil yang kita kenal sekarang. Para ulama meyakini kafur merujuk pada tanaman Dryobalanops aromatica, spesies asli Indonesia yang tumbuh subur di kawasan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Arkeolog Edward Mc. Kinnon dalam bukunya Ancient Fansur, Aceh’s Atlantis (2013) menjelaskan bahwa jalinan perdagangan kuno membuat orang Arab perlahan mengetahui bahwa pusat tanaman kamper berada di Indonesia, tepatnya di wilayah Fansur atau yang kini dikenal sebagai Barus.

Pedagang Arab Ibn Al-Faqih pada tahun 902 M sudah menyebut Fansur sebagai penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana. Sementara itu, ahli geografi Ibn Sa’id al Magribi dari abad ke-13 merinci secara spesifik bahwa Fansur adalah penghasil kamper dari Pulau Sumatra. Bahkan lebih jauh lagi, ahli geografi Romawi Ptolemy sudah mencatat nama Barus sejak abad ke-1 Masehi.

Sejarawan Claude Guillot dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menulis bahwa orang Arab tiba di Barus melalui rute langsung dari Teluk Persia, melewati Ceylon atau Sri Lanka saat ini, lalu mendarat di Pantai Barat Sumatra. Mereka membawa kapal besar untuk mengangkut kamper dalam jumlah masif yang kemudian dijual dengan harga tinggi di pasar internasional.

Kualitas kamper asal Barus terbukti unggul dan mengalahkan kamper dari Malaya maupun Kalimantan. Hal ini makin meningkatkan volume perdagangan dan menjadikan Barus sebagai salah satu pelabuhan tersibuk di kawasan Asia Tenggara kuno.

Namun, kedatangan pedagang Arab ke Barus tidak semata-mata bermotif komersial. Mereka juga membawa serta ajaran Islam. Proses islamisasi terjadi di beberapa titik pendaratan kapal Arab, termasuk Barus atau Fansur, Thobri atau Lamri, dan Haru.

Bukti paling awal keberadaan Islam di Barus ditandai dengan kompleks makam kuno Mahligai yang memuat nisan dari abad ke-7 Masehi. Jejak ini menjadikan Barus sebagai salah satu lokasi tertua yang diketahui menerima pengaruh Islam di Nusantara.

Kisah ini menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar negeri rempah-rempah. Sejak ribuan tahun lalu, Nusantara sudah terhubung dengan dunia internasional melalui komoditas kamper yang menjadi jembatan perdagangan sekaligus penyebaran peradaban Islam ke kawasan Asia Tenggara.