China Rajai Panel Surya Dunia, Tapi Kini Babak Belur
Jakarta — China selama ini mendominasi pasar panel surya global dengan pangsa produksi lebih dari 80%. Namun dominasi itu kini terancam oleh tiga masalah besar yang menghantam industri energi terbarukan terbesar di dunia tersebut.
Permintaan domestik yang melambat, kelebihan pasokan yang membengkak, serta gelombang proteksionisme dari negara-negara barat menjadi kombinasi mematikan bagi produsen panel surya Negeri Tirai Bambu.
Mengutip laporan The Economist, ekspor panel surya China sempat meningkat sejak eskalasi konflik AS-Iran mengguncang pasar energi global. Akan tetapi kenaikan itu belum cukup untuk menutupi kerentanan fundamental yang dihadapi industri surya China.
Pasar Domestik Mulai Jenuh
China merupakan pasar terbesar bagi panel surya dunia. Pemasangan masif di atap bangunan, perbukitan, hingga kawasan gurun membuat jaringan listrik negara itu kewalahan menyerap energi surya yang dihasilkan.
Aliran listrik dari tenaga surya hanya optimal saat matahari bersinar. Pada siang hari, pasokan bisa berlebih. Sementara malam hari, suplai merosot drastis. Kondisi ini kontras dengan pembangkit batu bara yang bisa diatur sesuai kebutuhan.
Pada Januari dan Februari 2026, sekitar 9% listrik surya China terbuang percuma. Angka ini melonjak dari sekitar 6% pada periode yang sama tahun lalu. Data The Economist memperkirakan tambahan kapasitas surya China pada 2026 akan turun tajam dibandingkan 2025.
BloombergNEF memproyeksikan pemasangan panel surya di China tahun ini bisa anjlok antara 24% hingga 43% dari tahun sebelumnya. Jika terjadi, permintaan panel surya global pada 2026 diprediksi menurun untuk pertama kalinya dalam dua dekade.
Kelebihan Produksi Hantam Harga
Investasi besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir membawa kapasitas produksi panel surya China melampaui 1.000 gigawatt per tahun. Jumlah ini jauh melampaui pemasangan global pada 2025 yang hanya mencapai sekitar 600 GW.
Jenny Chase dari BloombergNEF menilai kapasitas sebesar itu kemungkinan lebih besar daripada kemampuan pasar global untuk menyerap panel surya dalam jangka panjang.
Panel surya relatif sulit dibedakan antarprodusen. Ketika satu perusahaan berinovasi, pesaingnya bisa cepat meniru. Akibatnya, pabrik berlomba memperbesar skala produksi sementara harga jatuh dan margin keuntungan tergerus.
Sejumlah produsen sempat menyerukan disiplin diri untuk mengurangi kelebihan kapasitas. Tahun lalu, beberapa perusahaan mencoba mengatur kuota produksi dan menetapkan batas bawah harga. Namun kesepakatan itu sulit dijalankan dan beberapa pekan kemudian sudah ada yang dituding melanggar.
Pemerintah China juga mulai mencabut dukungan. Sejak Juni tahun lalu, proyek surya baru harus menjual listrik dengan harga pasar tanpa jaminan tarif tetap dari pemerintah. Beberapa daerah bahkan meminta perusahaan surya mengembalikan subsidi bernilai jutaan yuan.
Proteksionisme Global Makin Kuat
Di luar negeri, hambatan dagang makin berat. AS telah menerapkan pembatasan ketat terhadap impor panel surya China sejak 2022, termasuk tarif besar untuk produk yang masih bisa masuk.
Uni Eropa pada Mei 2026 menyatakan akan menghentikan secara bertahap penggunaan pemasok inverter asal China dalam proyek-proyek yang didanai blok tersebut. Inverter merupakan komponen krusial dalam sistem pembangkit listrik tenaga surya.
Sebagian perusahaan China mulai memindahkan atau mengalihkan produksi ke luar negeri untuk menghindari tekanan politik dan hambatan dagang. Namun biaya produksi di luar China jauh lebih tinggi, sementara tekanan harga panel masih berlanjut.
Gelombang Konsolidasi Belum Berakhir
Sejak 2024, lebih dari 40 perusahaan surya China bangkrut, diakuisisi, atau keluar dari bursa saham. Sepertiga tenaga kerja dari lima perusahaan surya terbesar China juga telah terkena pemutusan hubungan kerja.
Jessica Jin dari S&P Global menilai gelombang konsolidasi terbesar di industri ini bahkan belum terjadi. Harga panel surya memang sempat naik dalam beberapa bulan terakhir, tetapi masih berada di bawah rata-rata biaya produksi.
Saham produsen besar seperti LONGi Green Energy Technology, Tongwei, Jinko Solar, dan Trina Solar masih bergerak jauh di bawah separuh level puncaknya beberapa tahun lalu.
Industri ini masih menyimpan peluang bangkit. Teknologi sel surya generasi baru seperti perovskite secara teori mampu mendorong efisiensi di atas 30% dan berpotensi lebih murah untuk diproduksi. Pertanyaannya, berapa banyak perusahaan yang mampu bertahan cukup lama hingga teknologi baru itu benar-benar siap digunakan secara luas.
Baca juga: Wilmar dan Musim Mas Diduga Manipulasi Ekspor CPO, Kerugian Indonesia Capai Rp14.000 Triliun