AS Serang Iran, IRGC Balas Hantam Pangkalan Udara di Kuwait
Jakarta — Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran pada Kamis dini hari, menargetkan posisi militer di dekat Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis di selatan Iran yang berjarak sekitar 130 kilometer dari Selat Hormuz.
Serangan tersebut menghancurkan empat unit drone Iran serta pos kontrol darat yang terindikasi sedang bersiap meluncurkan armada drone tambahan. Konfirmasi ini disampaikan oleh seorang pejabat militer AS kepada kantor berita Anadolu.
“Langkah militer kami terukur dan murni bersifat defensif guna mempertahankan pakta gencatan senjata yang ada,” klaim pejabat tersebut.
IRGC Membalas Hantam Pangkalan Udara AS di Kuwait
Respons Iran datang cepat. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung melakukan retaliasi dengan membombardir pangkalan udara militer AS di Kuwait. Menurut Tasnim News Agency, serangan balasan menggunakan proyektil udara itu diluncurkan hanya beberapa jam setelah fasilitas di dekat Bandara Bandar Abbas dihantam bom militer Amerika.
Situasi ini menandai eskalasi paling tajam dalam hubungan kedua negara sejak kesepakatan gencatan senjata pada 8 April lalu. Perjanjian itu dicapai lewat mediasi pemerintah Pakistan, namun proses negosiasi lanjutan di Islamabad masih mandek untuk merumuskan perdamaian permanen.
Iran Desak DK PBB Ambil Sikap Tegas
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa operasi militer AS merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional serta Piagam PBB.
“Operasi militer yang dilakukan pasukan AS pada Kamis dini hari tersebut merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,” tegas Baghaei.
Baghaei mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil sikap tegas dan meminta pertanggungjawaban penuh dari Washington atas agresi yang mengancam kedaulatan nasional serta integritas teritorial Iran.
Teheran menuding AS secara konstan terus melanggar kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April. Bentuk pelanggaran tersebut mencakup intimidasi terhadap kapal-kapal dagang yang melintas di kawasan Teluk dan perairan internasional, hingga serangan udara teranyar di wilayah selatan Iran.
Ancaman terhadap Oman Jadi Sorotan
Selain mengkritik serangan fisik, Iran juga mengecam keras retorika bernada ancaman dari para pejabat Washington terhadap Teheran dan sekutu regionalnya. Secara khusus, Iran menyatakan solidaritas penuh bagi Oman.
Baghaei menilai ancaman “pemusnahan” terhadap Oman—yang selama ini dikenal memegang peran konstruktif sebagai mediator diplomatik perdamaian—merupakan normalisasi yang sangat berbahaya atas tindakan intimidasi hukum dalam tata hubungan internasional.
Konflik Berawal dari Serangan 28 Februari
Gesekan senjata terbaru ini terjadi di tengah kebuntuan upaya penyelesaian damai jangka panjang pasca-perang terbuka pada 28 Februari lalu. Saat itu, serangan gabungan AS dan Israel ke Iran memicu serangan balasan drone serta rudal masif di seantero kawasan, hingga berujung pada blokade Selat Hormuz.
Ketegangan ini memperburuk kondisi geopolitik kawasan Timur Tengah yang sudah rapuh. Dengan gencatan senjata terancam gagal total, dunia internasional menanti langkah Dewan Keamanan PBB merespons krisis yang terus membara ini.