Saturday, May 30, 2026
Politik

Gerindra Sebut Prabowo Bakal Kunjungi Austria-Hungaria Usai Bertemu Macron

Jakarta — Partai Gerindra angkat bicara membela keputusan Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan berturut-turut ke tiga negara Eropa: Prancis, Austria, dan Hungaria. Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso menyebut kritik yang menyebut perjalanan tersebut sebagai pemborosan anggran adalah cara pandang yang terlalu sempit.

Dalam keterangan resminya, Jumat (29/5/2026), Sugiat menegaskan bahwa kunjungan Prabowo bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari strategi diplomasi ofensif. Paradigma ini, menurutnya, merupakan wujud politik luar negeri bebas-aktif yang proaktif dalam memperjuangkan kepentingan nasional di tengah ketidakpastian global.

“Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup,” kata Sugiat.

Masing-masing negara, papar Wakil Ketua Komisi XIII DPR itu, memiliki peran strategis berbeda bagi Indonesia. Prancis, sebagai pemilik kekuatan militer dan teknologi terbesar di Eropa Barat, menjadi mitra kunci dalam akses pertahanan. Hubungan politik yang dibangun bertahap lewat kunjungan berulang disebut syarat mutlak untuk bisa bekerja sama dengan Presiden Emmanuel Macron.

Sementara itu, Austria digambarkan sebagai gerbang industri manufaktur presisi Eropa Tengah yang berpusat pada mesin, otomotif, pengolahan logam, hingga bahan kimia. Hungaria, di sisi lain, menjadi pusat pembangunan gigafactory baterai kendaraan listrik di Uni Eropa — tempat berkumpulnya raksasa seperti Samsung SDI dan CATL.

Sugiat menegaskan bahwa Indonesia yang menguasai 65 persen nikel dunia memiliki posisi tawar kuat di hadapan negara-negara Eropa yang sangat membutuhkan pasokan baterai masa depan. Dalam konteks ini, kunjungan marathon Prabowo ke Paris, Wina, dan Budapest dalam satu bulan dinilai upaya mengunci investasi hilirisasi sebelum jendela peluang tertutup.

“Pak Prabowo datang ke sana bukan sebagai peminta-minta bantuan, tetapi sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif dunia,” tegasnya.

Sugiat juga menyoroti aspek pertahanan. Kunjungan berulang ke Prancis, menurutnya, bertujuan membangun kepercayaan tingkat tinggi dengan Macron agar Indonesia diberi akses teknologi militer yang tidak bisa dibeli sembarang negara. Hal ini terkait langsung dengan pengamanan kedaulatan di Laut Natuna Utara yang belakangan menjadi perhatian serius pemerintah.

Menurut Sugiat, menilai keberhasilan diplomasi internasional dari biaya tiket pesawat saja adalah cara berpikir yang tidak sebanding. Nilai transfer teknologi pertahanan, pengamanan kedaulatan, dan posisi tawar Indonesia sebagai kekuatan regional, jauh lebih besar dari sekadar biaya operasional perjalanan.

“Kunjungan ke Prancis ini bukti nyata politik Bebas-Aktif yang berwibawa. Indonesia tidak mengekor ke Amerika, tidak tunduk ke China, dan tidak takut pada tekanan NATO saat berhubungan dengan Rusia demi mengamankan pasokan minyak dan LPG murah untuk rakyat,” katanya.

Kunjungan tiga negara Eropa ini sendiri berlangsung di tengah suasana politik dalam negeri yang sibuk mempersiapkan Upacara Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Prabowo dijadwalkan menjadi inspektur upacara di Gedung Pancasila, meski kunjungan luar negerinya tetap berjalan sesuai agenda.

Sugiat menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa komitmen, transfer teknologi, dan investasi yang dikunci di Paris, Wina, dan Budapest adalah fondasi jangka panjang yang hasilnya baru terlihat nyata dalam hitungan tahun.

“Pak Prabowo adalah seorang negarawan. Negarawan memberikan apa yang dapat diberikan kepada negara, sedangkan politisi mencari apa yang bisa diperoleh dari negara,” tegasnya.