Iran Klaim Jatuhkan Drone AS dengan Sistem Pertahanan Baru Arash-e Kamangir
Jakarta — Iran mengklaim telah menjatuhkan drone pengintai MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat menggunakan sistem pertahanan udara baru bernama Arash-e Kamangir di dekat Selat Hormuz awal pekan ini. Keberhasilan pencegatan itu menjadi bukti pertama penggunaan tempur sistem yang dikembangkan secara lokal oleh Teheran.
Media Iran melaporkan bahwa drone tersebut jatuh di dekat Pulau Qeshm, menandai penggunaan operasional pertama dari Arash-e Kamangir. Nama sistem ini dalam bahasa Farsi berarti “Arash sang pemanah”, diambil dari karakter mitologi Persia. Meski belum ada verifikasi independen, kantor berita semi-resmi Fars News Agency menyebut sistem ini memiliki kemampuan mendeteksi teknologi siluman.
Insiden itu terjadi bersamaan dengan laporan peluncuran serangan baru AS ke situs militer Iran di dekat Bandar Abbas. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kemudian menyatakan telah menyerang pangkalan udara Amerika sebagai balasan. Kontradiksi antara jalur diplomasi dan aksi militer di lapangan semakin memperumit negosiasi gencatan senjata yang sedang berjalan, seperti yang terlihat dalam ancaman “kiamat total” dari Iran jika AS nekat melanggar kesepakatan.
Dosen senior King’s College London, Mark Hilborne, menilai konsep di balik sistem pencegat baru ini sangat masuk akal. Iran berinvestasi besar-besaran pada pertahanan seluler yang murah dan diproduksi di dalam negeri untuk mengancam drone tanpa bergantung pada radar tetap yang mudah dideteksi.
“Iran telah menjadi cukup mandiri dalam berbagai bentuk desain rudal dan, seperti Ukraina, telah cerdas dalam mengubah ekonomi peperangan. Sistem yang murah dan sederhana dapat menahan sistem yang jauh lebih kompleks dalam risiko,” kata Hilborne kepada Al Jazeera.
Jatuhnya drone Reaper dinilai dapat memaksa AS bergantung pada rudal mahal bernilai jutaan dolar saat menyerang Iran. Sementara itu, Teheran terus menggunakan drone Shahed yang relatif murah untuk diproduksi, memberikan keuntungan ekonomi jangka panjang bagi Teheran dalam konflik berkepanjangan. Situasi ini mencerminkan bagaimana perang ekonomi menjadi senjata tersendiri di tengah konflik militer yang belum mereda, terutama terkait ancaman Trump terhadap Oman yang berpotensi memperluas konflik.
Analis keamanan dari Horizon Engage, Alex Almeida, menduga Arash-e Kamangir bukanlah senjata revolusioner yang benar-benar baru, melainkan langkah lanjutan dari peralihan Iran ke pertahanan udara seluler berbiaya rendah. Ia menduga sistem ini menggunakan panduan elektro-optik atau pencari panas yang mudah dipasang dan diluncurkan.
“Saya menduga ini adalah pengembangan lebih lanjut dari salah satu sistem tersebut. Sistem ini tidak bergantung pada panduan tetap dari situs radar pertahanan udara tradisional. Ini mungkin menggunakan semacam panduan elektro-optik atau pencari panas — pada dasarnya sistem SAM portabel yang mudah diatur dan diluncurkan,” ujar Almeida kepada Al Jazeera.
Klaim Iran ini memicu pertanyaan mengenai seberapa besar kemampuan pertahanan udara yang tersisa dan apakah Teheran mampu menahan serangan berikutnya jika negosiasi gencatan senjata gagal. Kehilangan drone AS di dekat salah satu rute pelayaran paling sensitif di dunia menjadi sinyal bahwa konflik di kawasan belum benar-benar mereda, meski jalur diplomatik terus dibuka.