Iran Ancam “Kiamat Total” jika AS Nekat Langgar Gencatan Senjata
Jakarta — Iran menaikkan tensi konflik dengan Amerika Serikat ke level baru usai mengancam akan melancarkan “kiamat total” apabila Washington kembali melakukan tindakan agresif selama masa gencatan senjata yang masih berlangsung. Ancaman ini disampaikan di tengah negosiasi yang terus bergulir antara kedua negara.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan secara terbuka bahwa konflik baru yang pecah akan menyebar jauh melampaui kawasan Timur Tengah. Militer Iran mengancam serangan yang menghancurkan di lokasi-lokasi yang bahkan tidak dapat dibayangkan oleh para lawannya. Pernyataan ini muncul hanya hitungan hari setelah AS meluncurkan gelombang serangan kedua ke Iran dalam minggu yang sama.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa setiap tindakan pembalasan di masa depan akan menampilkan jauh lebih banyak kejutan. Negosiator top Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa angkatan bersenjata mereka telah memanfaatkan masa gencatan senjata untuk membangun kembali kemampuan pertahanan pada tingkat tertinggi. Pernyataan ini menggemakan eskalasi serupa yang terjadi dalam konflik AS-Iran sebelumnya, di mana Teheran sempat melumpuhkan jalur pelayaran Selat Hormuz dan memicu guncangan energi global.
Para analis menilai sebagian besar retorika tersebut bertujuan mencegah serangan lebih lanjut. Namun, Teheran tetap mempertahankan opsi eskalasi signifikan jika diplomasi runtuh. Strategi utama yang diwaspadai adalah blokade maritim masif, yang dimulai dari Selat Hormuz dan berpotensi meluas ke koridor maritim vital lainnya. Dengan mengaktifkan kelompok proksinya, yaitu Houthi di Yaman, Iran dapat mengatur penutupan Selat Bab al-Mandeb yang menghubungkan rute perdagangan utama antara Eropa, Asia, dan dunia Arab.
Umud Shokri, pakar strategi energi sekaligus peneliti senior di George Mason University, menggambarkan dampak fatal jika kedua selat tersebut ditutup secara bersamaan. “Krisis yang terjadi secara simultan di Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz akan jauh lebih serius, berpotensi memengaruhi perdagangan Laut Merah dan aliran energi Teluk Persia, yang akan menaikkan harga minyak, tarif pengiriman, dan tekanan inflasi di seluruh dunia,” kata Shokri.
Ancaman Iran tidak berhenti di jalur maritim. Jika Presiden Donald Trump benar-benar menargetkan kilang minyak, infrastruktur, dan pembangkit listrik Iran, Teheran diprediksi akan memperluas cakupan perang ke seluruh dunia Arab. Seorang anggota komite keamanan nasional Iran, Ahmad Bakhshayesh Ardestani, menegaskan eskalasi yang jauh lebih mengerikan dibanding perang 40 hari lalu. “Jika mereka berniat melakukan sesuatu sehingga kami tidak memiliki minyak, kami tidak akan menyerang pipa mereka, kami akan menyerang sumur-sumur minyaknya sehingga mereka juga tidak memiliki minyak dan bahan bakar menjadi mahal bagi dunia,” kata Ardestani.
Dalam aspek persenjataan, Iran juga menunjukkan kemampuan yang terus berkembang. Nadimi, peneliti senior di The Washington Institute, memproyeksikan Teheran akan meluncurkan kawanan drone berbasis kecerdasan buatan yang jauh lebih canggih. Drone ini dilengkapi kamera khusus yang dapat berkomunikasi satu sama lain dan mampu menyesuaikan jalur penerbangan untuk menghindari pertahanan udara lawan. Selain itu, Iran juga berupaya meningkatkan rudal jelajahnya agar mampu mencapai kecepatan supersonik. Potensi target pun meluas hingga ke pangkalan militer AS di Eropa, termasuk RAF Fairford dan RAF Lakenheath di Inggris serta pusat logistik Ramstein di Jerman.
Nicole Grajewski, asisten profesor di Pusat Studi Internasional Sciences Po Paris, memberikan catatan berbeda. “Mereka tentu memiliki jangkauan melebihi 2.000 kilometer, tetapi itu bukan senjata baru,” kata Grajewski. Terlepas dari itu, ia memperingatkan bahwa wilayah Mediterania kini sudah tidak bisa lagi dianggap aman dari ancaman militer Iran. Sementara situasi diplomatik terus bergerak, dunia menanti apakah gencatan senjata ini akan bertahan atau justru menjadi pemicu konflik yang lebih besar.